
"Hampir setengah dari Takengon bisa terlihat dari sini" ujar Zulfikar Ahmad, orang Aceh yang lama tinggal di Takengon. Benar saja, dari 14 kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah terlihat dari ketinggian Pantan Terong. Deretan pemukiman yang berjajar di tepian Danau Laut Tawar, dan bagian kota yang dibawah bukit-bukit terlihat jelas. Lingkaran ovalnya yang berwarna coklat milik Arena Pacuan Kuda Belang Bebangka menjadi salah point of interest yang terlihat menarik di arah utara. Deretan perbukitan Barisan terlihat mengelilingi Ibukota Aceh Tengah ini. Agak jauh terlihat puncak Gunung Bor Klieten setinggi 2700 meter dari permukaan laut (dpl). Cantik.
Pantan Terong adalah salah satu titik tinggi untuk melihat pamandangan Danau Laut Tawar dan Kota Takengon yang berada di tepiannya. Hampir sama dengan Penanjakan, tempat tinggi untuk melihat Bromo dan Semeru di Jawa Timur. Dari tempat setinggi 1800 meter dpl ini, selain bisa melihat Danau Laut Tawar dan kota Takengon, Kita juga bisa melihat sebagian daerah Bener Meriah. Sebuah kabupaten baru, pemekaran dari Kabupaten Aceh Tengah. Lapangan terbang di Bener Meriah juga terlihat dari ketinggian Pantan Terong ini.
Saya berpikir menikmati sunrise di tempat ini pasti asyik sekali. Sebab Mentari persis akan muncul di depan Pantang Terong. persis di atas perbukitan di sekitar danau Laut Tawar. Sayang, saya datang saat matahari persis di atas kepala. Saya juga melihat asap tebal membumbung di tepi Danau Laut Tawar. Kebakaran hutan. "Di Aceh ada tiga musim, kemarau, hujan dan musim kebakaran. Sekarang musim kebakaran," canda salah satu anak Pengguna Linux Takengon (Pelita) yang saya temui. Memang sepanjang perjalanan saya dari Banda Aceh ke Takengon beberapa titik bekas kebakaran hutan terlihat jelas. Kebakaran itu menyisakan batang pohon yang menghitam, rumput yang hilang dan kuningnya dedaunan.

Jarak Pantan Terong dari pusat Kota Takengon sekitar 7,5 KM. Jalanan menanjak dengan dominasi warna hijau pepohonan di kiri kanan. Sesudah pemukiman penduduk hanya ilalang tinggi yang mendominasi. "Dulu ini adalah kebun penduduk, saat masa konflik ditinggalkan begitu saja," cerita Zul, panggilan Zulfikar dalam perjalanan. Cerita tentang Pantan Terong tak berhenti begitu saja.
"Pantan Terong dulu tempat transaksi korban penculikan," tambah Zul. Dulu, di masa konflik, kerapkali terjadi penculikan terhadap pegawai negeri oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka lalu meminta tebusan yang jumlahnya bisa mencapai ratusan juta. Ini terjadi di beberapa daerah di Aceh. Pantan Terong menjadi tempat barter tebusan dan korban.
Zul bercerita ia pernah menemani seorang temannya saat menebus salah seorang keluarganya. "Itu pengalaman yang sangat tidak menyenangkan, apalagi saat proses transaksi terjadi, tentara menyerang. Menakutkan sekali," cerita dia. Namun ia juga mempunyai cerita jenaka saat itu, "Ada salah senjata orang GAM yang macet saat itu, temannya komentar makanya jangan beli senjata dengan mencicil," kata dia sambil tertawa. Namun saat itu ia tidak bisa tertawa seperti saat ini. "Saya merasa tidak bisa bernapas dari Aceh Timur sampai Takengon."

Saat terjadi konflik, jangan harap bisa menikmati pemandangan indah dari Pantan Terong dengan tenang. Apalagi menjumpai tiga gadis cantik, pegawai salah satu operator telepon selular yang saya datang ke tempat itu. Kecurigaan selalu muncul hampir ke semua orang. Saat bercerita ada sebuah motor melintas di depan mobil kami Zul bercerita "Dulu kalau melihat motor muncul seperti ini pasti jantung langsung berdetak kencang,kita selalu curiga dengan orang lain." Tak heran apabila tentara membuat pos pengamatan di atas Pantan Terong.
Cerita sedih tentang konflik tak hanya berhenti di situ. Zul juga menunjukan rumah yang terbakar saat wilayah konflik. Rumah itu tinggal puing tembok yang berdiri dengan halaman yang dipenuhi rumput tinggi. "Perang itu tidak ada gunanya. Semua orang susah, untuk pergi susah, untuk cari penghidupan suah, untuk sekolah susah." Saya hanya termangu, sebab konflik berkepanjangan itu hanya baru berakhir beberapa tahun lalu. Ya, belum lama.
Namun untuk saat ini jangan khawatir, kondisinya sudah aman. Sayangnya untuk menuju tempat di ketinggian ini, tidak ada kendaraan umum yang kesana. pengunjung harus membawa kendaraan sendiri. Pengunjung bisa menyewa mobil atau becak (motor dengan tempat penumpang di sampingnya) dari Takengon.











