Pantai Pangumbahan, berjarak 5 kilometer ke arah barat dari Pantai Ujung Genteng, dan 70 kilometer selatan Sukabumi. Jika anda tertarik untuk melakukan kegiatan susur pantai dengan aktifitas jalan kaki ringan, bisa memulainya dari Ujung Genteng, menyisir dari Pantai Akuarium, Pantai Cibuaya, Pantai Pangumbahan, Lokasi Penangkaran Penyu, Pantai Citereum dan terakhir pesona yang dapat anda nikmati adalah Pantai Ombak Tujuh yang dikenal baik oleh kalangan peselancar dunia. Pantai Pangumbahan identik dengan Penyu, karena di lokasi ini terdapat kegiatan Konservasi dan Penangkaran Penyu yang dikelola oleh Pemerintah Daerah setempat.
Jika di Jawa Timur pada kebanyakan orang mengenal Sukamade atau Taman Nasional Merubetiri identik dengan lokasi pelestarian penyu, maka untuk Jawa Barat lokasi yang perlu anda datangi untuk bisa melihat langsung proses bertelurnya penyu adalah di Ujung Genteng, Sukabumi bagian Selatan. Sesuai namanya lokasi tersebut memang persis berada di salah satu sisi Ujung Gunting/genteng (jika dilihat secara utuh dari bentuknya), adalah daerah yang dulunya masih asing dan belum banyak dikenal oleh para pelancong, kini mulai menampakkan dayatariknya melalui pesona Wisata Bahari dan Ekowisatanya. Tepatnya ada di Pantai Pangumbahan, pinggiran laut yang areal sekitarnya masih di tumbuhi pepohonan rindang dan lebat yang juga menjadi syarat sebagai lokasi yang memenuhi kriteria bagi para Penyu untuk bertelur. Karena jarang sekali Penyu berstelur di lokasi yang tandus dan gersang, apalagi jika lokasi tersebut terlalu banyak sampah dan kotoran.
Mengenal Sekilas tentang Penyu
Penyu, adalah nama lokal dari Bahasa Indonesia (inggris: sea turtle) dan memang jarang kita menyebutnya sebagai kura-kura laut, dan juga karena kura-kura air tawar pun kita memiliki sebutan lokal sendiri, yaitu labi-labi atau bulus (jawa) (inggris: freshwater turtles). Dan untuk Kura-kura kita mengenalnya yang tinggal di daratan. Kura-kura dan penyu adalah hewan bersisik dan berkaki empat yang termasuk golongan reptil, sangat khas dan mudah dikenali karena memiliki 'rumah' atau batok yang keras dan kaku.
Dunia Penyu di Indonesia setidaknya memiliki dan dapat ditemui di perairan indonesia sebanyak 6 jenis dari 7 jenis yang dimiliki oleh dunia. Satu-satunya jenis yang tidak dapat ditemui di perairan indonesia adalah dari jenis Penyu Kempi (Lepidochelys kempii) yang tinggal di kawasan Atlantik. Sisanya dari 6 jenis yang ada seperti Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Tempayan (Caretta caretta), Penyu Pipih (Natator depressus) masih bisa ditemukan di wilayah Nusantara kita dengan berbagai macam status perlindungannya.
Pada hampir semuanya jenis yang ada di Indonesia tersebut, kesemuanya mendapat status sebagai satwa yang dilindungi, artinya sudah tidak lagi dapat di perjualbelikan atau dikonsumsi bebas mengingat populasi milik dunia ini semakin hari semakin menurun karena ulah manusia. Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam.
Penyu Hijau di Pantai Pangumbahan
Jenis penyu yang banyak terdapat di pantai Pangumbahan adalah jenis penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Hijau dewasa bisa mencapai panjang 1,5 meter dengan berat sampai 300 kg! Sekali bertelur penyu betina bisa menghasilkan 100-200 butir telur. Penyebaran Penyu Hijau ini hampir ada di seluruh dunia, dan memiliki sub spesies yang lebih dikenal dengan nama penyu hitam (Chelonia mydas agasizii).
Pengelolaan dan upaya pelestarian penyu di pantai Pangumbahan sendiri telah melalui proses waktu yang cukup panjang dan berliku, karena pada masa sebelumnya pernah mengalami pola Pengusahaan dan pengelolaan oleh pihak swasta hingga akhirnya mendapat serangkaian protes dari warga dan kalangan pencinta satwa untuk dikembalikan lagi kepada upaya penyelamatan spesies langka dan bukannya upaya ekploitasi. Duniapun juga sudah menetapkan untuk jenis Penyu Hijau ini sebagai satwa yang terancam punah.
Keberadaan penyu Hijau di Pantai Pangumbahan ini, sudah pasti akan mendatangkan keuntungan yang berlebih untuk Pendapatan Daerah jika dapat melakukan pengelolaan dengan baik. Panorama keindahan pantai akan terasa lebih lengkap jika ada muatan pendidikan dan Ilmu Pengetahuan. Membuat kemasan dalam bentuk Ekowisata, tidak saja berkepentingan dalam upaya penyelamatan spesies langka, tetapi juga akan memberikan kontribusi dan pendapatan bagi masyarakat sekitar yang berkelanjutan.
Mengintip Proses Bertelur Penyu Hijau di Pantai Pangumbahan
Untuk dapat menyaksikan secara langsung di alam bagaimana seekor Penyu Betina bertelur, anda sebaiknya mempersiapkan diri sebelumnya dengan perlengkapan-perlengkapan tambahan untuk kegiatan di malam hari dengan terpaan angin laut, botol minum dan beberapa makanan kecil serta jaket untuk menahan angin laut. Karena selama di lokasi anda tidak akan menemukan toko atau warung yang buka pada hampir tengah malam, juga karena proses ini setidaknya membutuhkan waktu 2-3 jam diantara pukul 23.00 hingga 04.00 WIB dini hari.
Sebagian masyarakat masih mempercayai mitos keampuhan telur penyu yang mampu mendongkrak stamina dan vitalitas tubuh. Padahal tanpa disadari keberadaan mitos itu justru mengancam kehidupan penyu hijau yang berada di ambang batas kepunahan.
Agustus hingga bulan Maret, ditandai sebagai musim bertelur para Penyu betina, pantai ini setiap malamnya semarak oleh kedatangan belasan sampai puluhan induk penyu. Secara beramai-ramai, mereka hendak mengadakan prosesi bertelur secara massal. Kehadiran penyu-penyu raksasa itu tak pelak lagi menjadi daya tarik utama di Pantai Pangumbahan. Terutama bagi wisatawan yang menggemari ekowisata dan petualangan alam liar yang eksotis.
Pusat Penangkaran Penyu yang kini telah dikelola oleh Pemerintah Daerah setempat, telah menyediakan sejumlah 6 (enam) pos pengamatan yang disiapkan bagi para pengunjung. Masing-masing pos akan menampung sejumlah kumpulan pengunjung, tentu dibatasi jumlahnya agar tidak terlalu padat dan ramai sehingga mengganggu proses bertelurnya Penyu.
Panduan Pengamatan Penyu
Mengintip Proses Penyu Bertelur Melihat induk penyu yang mendarat untuk bertelur merupakan suatu pengalaman yang tak terlupakan. Tetapi, perlu diingat bahwa seekor penyu sangat tak berdaya terhadap gangguan di darat, dan jika kaget, atau tegang, kemungkinan besar sang induk akan kembali ke laut tanpa berhasil betelur. Jika ingin mengamati penyu yang bertelur, ikutilah petunjuk sederhana berikut:
- Menghindari semua yang dapat mengganggu berdiam dan bergerak perlahan-lahan
- Jangan mendekati seekor penyu yang baru datang dari laut, dia akan gampang takut
- Biarkan sendirian penyu yang belum bertelur
- Menghindari pemakaian senter jangan pernah mengarah
- Menghindari menjerat penyu (penyu rasa terjerat, tertangkap) mendekatilah penyu dari belakang, dan menjaga postur tubuh rendah? dan Mundur jika penyu memperlihatkan tanda stres
- Jangan mengganggu telur atau anak penyu yang menetas
- Sebaiknya membatasi pengamatan pada 30 menit satu kali
Dari pos berkumpul, anda akan dibawa oleh seorang petugas menuju pos yang telah ditunjuk sebelumnya. Tentu tidak langsung diantar ke lokasi lubang Penyu, melainkan menunggu di tempat yang dipilhkan sampai akhirnya mendapat kode untuk mendekat. Harus disadari bahwa Penyu akan kaget dan takut jika melihat sinar di Pantai, dan sangat mungkin akan mengurungkan bertelur dan kembali lagi ke laut. Kita di perbolehkan mendekat jika Ibu Penyu tersebut sudah menggali lubang dan memulai proses mengeluarkan telurnya. Kalo sudah dalam posisi demikian, ibu penyu tidak akan peduli lagi dengan situasi di sekelilingnya dan melanjutkan bertelur hingga tuntas.
Perjuangan seekor Ibu Penyu untuk bertelur sangatlah berat, dimulai dari merangkak pelan menuju daratan dan selanjutnya menggali lubang untuk calon telur-telurnya. Dia akan memilih lokasi yang relatif tinggi dan bersih tentu lokasi yang memenuhi syarat untuk proses menetas secara alami, faktor suhu dan kebersihan menjadi faktor penentu, ibu Penyu akan menghentikan proses penggalian jika dia menemukan sampah. Faktor kebersihan sampah di lokasi bertelur penyu harus menjadi perhatian penting, khususnya bagi para pengunjung agar kiranya tidak membuang sampah bekas pembungkus makanan dan bekas botol air mineral sembarangan. Sangatlah bijaksana jika anda mengantongi sampah anda sendiri dan membuangnya jika menemukan tempat sampah yang telah disediakan.
Proses pengamatan Penyu bertelur ini bisa memakan waktu hingga 2-3 jam khususnya jika kita mau bersabar hingga menyaksikan si Ibu kembali lagi ke laut lepas. Rata-rata sekali bertelur sebanyak 80 - 200 butir, dimulai dari usia 20 - 100 tahun. Saat Penyu siap mengubur telur-telurnya, sirip depannya mengais-ngais pasir dan mengarahkan ke bagian belakang, membuat gundukan kecil diatas lobang, sedangkan bagian sirip kakinya nampak melakukan gerakan-gerakan memadatkan tanah. Sesekali nampak kedua matanya berlinangan air mata, bukan sedang menangis melainkan menjadi perlindungan matanya dari siraman pasir-pasir yang tersembur oleh gerakan sirip-siripnya.
Selepas pagi, jika anda masih dapat menyempatkan diri di Pantai Pangumbahan, anda juga dapat menyaksikan pelepasan Tukik (anak penyu) ke laut lepas. Jika tertarik dengan aktifitas ini, sebaiknya sebelumnya sudah menghubungi pihak petugas untuk memesan waktu yang tepat.
Penyu Pangumbahan di Ambang Punah
adalah judul dari acara televisi di Indosiar "Penyu Pangumbahan di Ambang Punah" yang telah mendapatkan penghargaan Anugrah Pesona Wisata 2005 yang diberikan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata kepada media cetak dan Televisi yang dinilai telah dengan baik ikut mempromosikan pariwisata negeri ini lewat tulisan dan tayangan.
Judul lain tentang Konservasi satwa langka ini untuk masa depan seharusnya dipersembahkan oleh Penerima Manfaat dampak Wisata di lingkungan lokasi Wisata Ujung Genteng dan sekitarnya. Baik dari kalangan pengelola Jasa Wisata, para pemilik Penginapan, termasuk juga didalamnya adalah Masyarakat Setempat. Pola kerjasama untuk upaya penyelamatan kepunahan satwa langka ini terjadi diantara mereka, karena seharusnya perlu disadari bahwa dengan adanya Penyu Hijau ini yang masih mau bertelur di Pantai Pangumbahan adalah daya pemikat utama yang menarik para pelancong dalam negeri atau dari manca negara.
Jika justru para penarik Ojeg, Pengelola Losmen dan Penginapan atau para Jasa Tour dan Travel yang mempelopori kerusakan dan mempercepat kepunahan Penyu-penyu tersebut dengan menawarkan janji keampuhan Telur Penyu kepada tamunya. Tentu seharusnya disadari jika suatu waktu nanti Penyu-penyu Hijau tidak akan kembali lagi, nyatanya Pantai Pangumbahan sudah tidak dikenali lagi sebagai lokasi ekowisata dan potensi bagi wisata daerah Sukabumi.
Baca Juga Artikel lainnya:
- http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/26/20310444/penangkaran.penyu.di.sukabumi.dijadikan.obyek.wisata
- http://cybertravel.cbn.net.id/cbprtl/cybertravel/detail.aspx?x=time+traveller&y=cybertravel|2|0|3|1793









